Subscribe:

Musikalitas Kecerdasan Ganda

Kecerdasan merupakan kemampuan mengurai pengalaman sebelumnya dan menangkap situasi yang baru, sebetulnya  ini tidak berkaitan dengan seberapa banyak literatur seperti buku yang dibacanya atau penguasaan rumus-rumus ilmiah. Kecerdasan tak lain hasil dari sebuah konteks, tugas dan tuntutan hidup yang bergulir. Sehingga bukan berangkat dari tingginya nilai IQ, gelar akademis, maupun pemberian reputasi dan pengakuan dari lembaga bergengsi. Maka disimpulkan kecerdasan adalah berangkat dari nalar rasionalitas manusia sendiri, nisbi dan tidak terukur karena pemberian julukan cerdas artinya menyangkut perihal kualitas  diri. Kecerdasan ganda (the multiple intelligence) dari Howard Gardner (1983) menyebut perkara kecerdasan yang majemuk, salah satunya menyebut musik sebagai jenis dari kecerdasan ganda tersebut, disamping kecerdasan bahasa, ketertarikan pada alam (nature mind) dan inter-intra personal. Musik adalah salah satu seni yang memerlukan rasa estetika dan proses kreatifitas yang tajam sedangkan musikalitas memiliki definisi sebuah kepekaaan, bakat dan pengetahuan terhadap musik.
 
Walaupun minat dan bakat seseorang boleh saja dijadikan dasar untuk memilih profesi akan tetapi Kemampuan musikalitas tidak melulu merujuk pada sebuah profesi musikus seperti komposer, konduktor,  arranger  bahkan pengamen jalanan sekalipun. Musikalitas dapat dijadikan parameter seseorang dapat mengolah rasionalitasnya untuk menghadapi tantangan hidup yang dijalaninya, Seperti inilah yang dimaksudkan oleh para psikolog kognitif (disiplin ilmu untuk mengetahui prilaku dari mental dan pikiran). Ya  smart  (cerdas) bukan  brilliant (pintar), secara mudah kita dapat memahami konsep ini misalnya ketika anda mengetahui orang-orang disekitar anda merupakan pengusaha sukses akan tetapi pengusaha tersebut tidak memakan bangku sekolah apalagi bergelar Profesor dari sebuah Universitas, ataupun contoh berikutnya ketika anda sudah mengetahui seorang seniman musik A diakui karya-karyanya diseluruh pelosok akan tetapi seniman tersebut bukanlah seorang yang berangkat dari akademisi di fakultas seni melainkan sudah memiliki bakat tersendiri (otodidak).
 
Sebuah interview:

“Om Bob, bisa ceritakan riwayat om sehingga bisa mengantarkan kesuksesan usaha om sampai bisa sebesar ini?
Tanya seorang wartawan kepada Bob Sadino, salah seorang pengusaha asli Indonesia.  “ Resepnya hanya kerja keras, saya sendiri mengalir saja, dan  saya tidak sekolah hanya terus belajar dari pengalaman.” Jawab Bob Sadino dengan rendah hati. Mungkin begitu juga yang terjadi pada sosok Ahmad Dhani misalnya.

Selanjutnya, tentunya sangat lebih baik jika musikalitas kecerdasan ganda diperkuat dengan terjun pada profesi musisi. Bakat sebagai modal awal, kemudian Karena orientasinya menuju profesi jauh akan lebih baik lagi jika didorong kemampuan akademis dengan mengambil studi formal. Pada akhirnya bisa dipertanggungjawabkan secara sisi legitimasi (isi; esensi) dan sisi legalitas (pengakuan formal). Pada saat ini wujud musikalitas modern yang ditopang antara dua sisi diatas tadi saya mencoba memberikan pendapat pribadi dengan menunjuk pada grup band progresif rock asal AS yakni Dream Theater, yang digawangi  oleh James Labrie (vokal), John Petrucci (gitar), John Myung (bass), Jordan Rudess (kibor), dan Mike Mangini (Drum). Kenapa dan bagaimana dengan grup band ini? Sebab mayoritas pelaku dunia musik telah mengakui bahwa band ini sebagai salah satu figur kecerdasan musikalitas di dunia pada saat ini. Tembang instrumentalia yang dikomposisikan begitu padat dan irama serta notasinya penuh kepekaan yang terkadang dapat menembus rasionalitas (sukar ditebak) oleh kebanyakan masyarakat terutama yang awam. Bagi penikmat music rock, coba saja anda browsing link youtube misalnya dengan keyword  “Dream Theater-Octavarium Score part, Dream Theater instrumental tok juga cukup langsung  klik!. Selain sebagai humanis ternyata semua personel band ini menyandang gelar professor akademik dari almamaternya yaitu Berklee College of Music, Massachusetts-AS.
 
Diatas tentunya relatif, seperti kaum humanis utarakan: “Semua orang sama saja, yang membedakan hanyalah seleranya. Maka selera tidak bisa diperdebatkan”.sepanjang musik masih enak  untuk didengar walaupun sederhana, sebab seni bukanlah ilmu pengetahuan yang memiliki ukuran (limitatif). Seni tak lain sebuah mutu, dia tak terbatas (infinity). Jika ditarik kesimpulan, tidaklah harus pintar setidak-tidaknya menjadi kreatif dan cerdas, maka setuju bahwa musikalitas memang bentuk kecerdasan ganda manusia, sebuah cara manusia untuk menghadapi kehidupannya.
 
 
    Salam
 
ank        
    Ank

0 komentar: